Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya Aku akan mengerjakan Ini besok pagi, Kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah” dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa & Katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini” (Al Kahfi : 23-24)
Namanya manusia, mungkin kita tahu, bahwa kita boleh saja merencanakan segala sesuatu, memikirkan berbagai hal, menganggap suatu hal sangat sempurna hingga kita berfikir kalau kita sudah mengetahui akhir dari sesuatu, tapi kita sering terlupa bahwa ada Sang Empunya Langit dan Bumi yang berkehendak atas segala sesuatu. Maka tak jarang, kita sesumbar berucap “ya, saya pasti datang”, “oke, Senin saya bereskan pekerjaannya”, atau “sip lah, semuanya gampang diatur…”.
Sebenarnya, seorang Muslim harus memiliki sifat optimis (tafa’ul atau raja’), tapi kita sering terlupa bahwa sifat optimis tadi kudu diimbangi dengan rasa ‘adamul amni min makrillah (tidak merasa aman dari makar Allah / kehendak / ketetapan Allah SWT dan juga khauf (takut). Betapa Allah sudah menciptakan dunia ini dengan segala kesempurnaannya, menciptakan segala sesuatu berpasangan, tentunya agar semuanya seimbang.
Ada satu kisah yang menggambarkan betapa pentingnya berkata “insya Allah”. Suatu hari, Rasulullah saw.ditanyai oleh kafir Quraisy tentang tiga hal:
Bagaimana kisah ashabul kahfi ? Bagaimana kisah Dzul Qarnain ? Apa yang dimaksud dengan ruh?
Mendapati pertanyaan tersebut, Rasulullah saw.menjawab, “Besok akan saya ceritakan dan saya jawab”.
Ada satu hal penting yang terlewat, beliau lupa mengucapkan insya Allah. Akibatnya, wahyu yang biasanya turun kepada beliau setiap mendapati masalah, tertunda selama 15 hari. Sedangkan kaum Quraisy terus menagih-nagih janji beliau tentang hal yang mereka pertanyakan itu. Rasulullah saw.sangat sedih kejadian itu. Barulah setelah lima belas hari, Allah menurunkan jawaban atas pertanyaan itu melalui surat Al-KAhfi: 23-24.
“Janganlah kamu sekali-kali mengatakan, ‘Sesungguhnya saya akan melakukan hal ini besok,’ kecuali dengan mengatakan insya Allah.”(QS. Al-Kahfi: 23)
Mungkin kita bertanya-tanya, “Bukankah Rasulullah saw.telah diampuni dosanya baik yang telah lalu dan yang akan datang? Lalu, mengapa Allah menghukum Rasulullah saw. sampai sebegitu beratnya??” dijelaskan, bahwa itu semua tujuannya semata-mata
1). Agar bisa menjadi pelajaran untuk kita, manusia, terutama yang hidup jauuh dari zaman ketika Rasulullah masih hidup. Rasulullah saw. Yang paling Allah cintai aja ditegur dengan sangat keras, apalagi kita, manusia biasa yang mungkin keimanan kita masih sangat jauh dari standar.
2). Karena Rasulullah saw. Adalah orang yang mempunyai kedekatan dengan Allah. Jadi, di buku disebutkan, ada hal-hal tertentu yang untuk orang-orang abrar (orang yang baik-baik) dinilai sebagai hasanat (kebaikan), namun bagi orang-orang berkelas muqarrab (yang dekat dengan Allah dan menjadi kekasihNya) akan dinilai sebagai suatu sayyiat (keburukan).
Yang lainnya adalah kisah nabi Sulaiman as, nabi Musa as, dan nabi Ismail as. Semuanya menggambarkan dengan cukup jelas, betapa mengucapkan “insya Allah” merupakan hal yang dinilai oleh Allah sangat urgen.
Kita lihat saja tadi, betapa manusia sekelas Rasulullah saw. saja ditegur Allah dengan sangat keras hanya karena lupa mengucap insya Allah. Nah fillah, hal itu adalah hal yang mudah, tapi jangan dianggap remeh, karena konsekwensi dari kata “ insyaa Allah “ sangatlah besar.
Namun akhi fillah pada prakteknya, sering kita jumpai orang – orang atau bahkan mungkin diri kita ( marilah kita instropeksi diri ) yang begitu mudahnya mengucapkan kata Insyaa Allah tapi dengan maksud mengingkari, atau dengan tidak ada kesungguhan niat dan tekad utk memenuhi kesanggupan kita akan sesuatu hal. Atau bahkan Cuma mempermainkan saudara kita atau orang lain, yang tentunya hal ini akan membuat orang lain kecewa.
INSYAA ALLAH …kata – kata yang sering dijadikan kambing hitam untuk basa – basi..mengingkari janji / kesanggupan, astaghfirullahal adziim… padahal insyaa Allah itu harus di ikuti dengan kesungguhan untuk memenuhi janji / kesanggupan, artinya dengan mengucapkan insyaa Allah bearti sdh berjanji 99, 9 % utk memenuhi ke…sanggupan, dan 0,1 % adalah jika Allah mengijinkan.
Padahal menyatakan kesanggupan dengan menggunakan kata “ Insyaa Allah “ itu setara / sama dengan Janji, Dan memenuhi janji itu adalah kewajiban seorang mu’min,
“ Hai orang-orang yang beriman, penuhilah janji – janji itu…” ( QS Al Maaidah ( 5 ) ayat 1 )
Apalagi membawa – bawa Asma Allah SWT, sehingga urusannya tidak lagi dengan sesama manusia saja ( muamalah ) tapi juga akan berurusan dengan Allah SWT, karena kata Insyaa Allah itu bearti sudah melibatkan Allah SWT untuk menjadi saksi atas kesanggupan kita, sedangkan Allah SWT adalah sebaik – baiknya Hakim dan sebijak – bijaknya Hakim. Maka hendaklah kita takut kepada Allah SWT jika kita Cuma menjadikan kata insyaa Allah sebagai “kambing Hitam “
Kadang kala begitu mudahnya kita mengucapkan “ Insyaa Allah “ Tapi ironisnya begitu mudah pula kita utk mengabaikan apa yang sdh kita sanggupi…hal ini tentunya akan membuat pihak – pihak tertentu merasa KECEWA.. dan yang lebih celaka ..Allah SWT senantiasa melihat niat kita dan ikhtiar kita utk merealisasikan kata InsyaaAllah tersebut, jika kita Cuma bermain – main dengan kata Insyaa Allah, maka hal itu bisa mendatangkan murka Allah SWT, na’udzubillahi min dzalik.
Sahabat fillah, tapi jika ada kesungguhan tapi kemudian betul – betul ada udzur syar’i ( alasan yang bisa diterima ) maka tidak apa – apa, yang terpenting ada KOMUNIKASI sehingga tidak membuat orang lain KECEWA atau minimal meminimalisir kekecewaan orang lain.
Kalau masih banyak yang mengkambing hitamkan Insyaa Allah, kita husnudzaani saja , bahwa orang tersebut memang tidak atau kurang paham..sehingga bila ada kesempatan yang tepat kita bisa kasih dia nasihat sebagai bentuk kasih sayang kepada saudara kita, agar dia bisa merubah sikap.
Jadi sebaiknya kalau kita memang tidak sanggup atau tidak bisa, maka berterus terang itu adalah lebih baik & lebih ihsan. Jangan mengucapkan Insyaa Allah, tapi untuk niat atau tekad yang tdk baik, atau jika sudah mengucapkan kata Insyaa Allah, maka jangan terlalu mudah mengingkari, karena itu BUKAN ciri seorang MUKMIN. Tapi lebih dekat kepada sifat orang – orang Munafiq, na’udzubillahi min dzalik.
Wallahu a’lam.


Leave a Reply